Sunday, January 21, 2018

Ketika Boneka Jadi Pemimpin





Kata Pengantar:

Nama lengkapnya Muhammad Ainun Nadjib atau biasa dikenal Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, lahir di Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953. Ia adalah seorang tokoh intelektual berkebangsaan Indonesia yang mengusung napas Islami.

Menjelang kejatuhan pemerintahan Soeharto, Cak Nun merupakan salah satu tokoh yang diundang ke Istana Merdeka untuk dimintakan nasihatnya yang kemudian kalimatnya diadopsi oleh Soeharto berbunyi "Ora dadi presiden ora patheken". Emha juga dikenal sebagai seniman, budayawan, penyair, dan pemikir yang menularkan gagasannya melalui buku-buku yang ditulisnya. [Wikipedia]

Baik, di hari yang masih tetap dingin ini (maklum disini masih musim dingin, January 21, 2018), mari kita sempatkan untuk merenungi isi pesan yang timbul dari perasaan hati seorang yang dikenal sebagai tokoh intelektual berkebangsaan Indonesia. Ia berbicara tentang apa dan bagaimana seorang pemimpin boneka itu.

Mari ikuti apa yang dipikirkannya itu, melalui penanya, yang kami dapati dari laman sahabat kami. Tulisannya dikemas hemat dan padat, tapi telak membangunkan kesadaran kita yang disampaikannya dalam dialog gaya metahapor khas seorang seniman. Selamat menyimak. Billahit Taufiq wal-Hidayah. □ AFM



KETIKA BONEKA JADI PEMIMPIN
Oleh: MH. Ainun Nadjib


KENAPA RAKYAT mau memilih boneka, patung atau berhala untuk menjadi pemimpinnya?
.
Karena partai politik memperkenalkan calonnya dengan mendustakan kenyataannya. Calon pemimpin ditampilkan dengan pencitraan, pembohongan, dimake-up sedemikian rupa, dibesar-besarkan, dibaik-baikkan, diindah-indahkan, dihebat-hebatkan.

Itu bukan politik namanya, Pak, itu kriminal

MEMANG bukan politik, melainkan perdagangan. Bukan demokrasi, melainkan perjudian. Memang bukan kepemimpinan, tapi talbis. Kalau dipaksakan untuk disebut demokrasi, ya itu namanya Demokrasi Talbis

Talbis itu apa to Pak?

TALBIS adalah Iblis menemui Adam di sorga dengan kostum dan make up Malaikat, sehingga Adam menyangka ia adalah Malaikat. Maka Adam tertipu. Rakyat adalah korban talbis di berbagai lapisan. Mereka dibohongi sehingga menyangka bahwa yang dipilihnya adalah pemimpin, padahal boneka. Boneka yang diberhalakan melalui pencitraan”.

Apakah pemimpin yang demikian bisa berkuasa?

YANG benar-benar berkuasa adalah botoh-botoh yang membiayainya. Setiap langkahnya dikendalikan oleh para botoh. Setiap keputusannya sudah dipaket oleh penguasa modal. Ia tidak bisa mandiri, karena dikepung oleh kelompok-kelompok yang juga saling berebut demi melaksanakan kepentingan masing-masing.

Apa ia tidak merasa malu menjadi boneka?

ITU satu rangkaian: tidak merasa bersalah, tidak malu, tidak tahu diri, tak mengerti bahwa ia sedang menyakiti dan menyusahkan rakyatnya, tidak memahami posisinya di hati masyarakat, tidak punya cermin untuk melihat wajahnya”.

Sampai separah itu, Pak?

Tidak punya konsep tentang martabat manusia, harga diri Bangsa dan marwah Negara. Hanya mengerti perdagangan linier dan sepenggal, tidak paham perniagaan panjang yang ada lipatan dan rangkaian putarannya. Tidak memahami tanah dan akar kedaulatan, pertumbuhan pohon kemandirian, dengan time-line matangnya bunga dan bebuahannya. Pemimpin yang demikian membawa bangsanya berlaku sebagai pengemis yang melamar ke Rentenir…
.
“Pemimpin yang seperti itu akhirnya pasti jatuh dan hancur”, kata Kakak.

Belum tentu”, kata Bapak.

“Jangan lupa bahwa kalau para botoh mampu mengangkat berhala ke kursi singgasana, berarti mereka juga menguasai seluruh perangkat dan modalnya untuk bikin apa saja semau mereka di Negara itu.

Juga selalu sangat banyak orang dan kelompok yang mencari keuntungan darinya, bahkan menggantungkan hidupnya. Sehingga mereka membela boneka itu mati-matian.

Mereka selalu mengumumkan betapa baik dan hebatnya pemimpin yang mereka mendapatkan keuntungan darinya, sampai-sampai akhirnya mereka yakin sendiri bahwa ia benar-benar baik dan hebat. Uang, kekuasaan dan media, sanggup mengumumkan sorga sebagai neraka, dan meyakinkan neraka adalah sorga”. □ [Yogya, 1 Agustus 2017 *Emha Ainun Nadjib*]