Wednesday, September 7, 2016

Siapa George Sale


Oleh: A. Faisal Marzuki



Nulla falsa doctrina est, quae non aliquid veri permisceat. [Bahasa Latin]

Artinya dalam bahasa Inggris: There is no false doctrine, which is not anything of the truth may embroil.

Maknanya dalam bahasa Indonesia: Tidak ada ajarannya yang salah, namun tidak semuanya mengandung kebenaran, tapi boleh jadi kita ambil manfaatnya.
 
[Kutipan George Sale dalam bukunya The Koran]


S
 iapa George Sale? Dia adalah seorang bangsa Inggris yang hidup di abad ke-18. Dia adalah seorang penerjemah Al-Qur'an langsung dari teks asli Bahasa Arab ke Bahasa Inggris. Kata Pengantar Awal yang disajikan dengan baik sekali. Terjemahannya diberi ulasan dari komentator (pengulas) yang kompeten. Ulasannya sebagai catatan untuk lebih memperjelas teks terjemahan

 Gambar: Kata Pengantar Awal

Data yang diketahui penulis adalah bahwa dalam mempersiapkan penterjemahannya memakan waktu selama 25 tahun dengan dibantu dua orang Arab yang tinggal di London. Berlaianan halnya dengan terjemahan yang beredar sebelumnya yaitu terjemahan dari terjemahan yang dengan itu jauh seperti yang dimaksud oleh Al-Qur’an yang sebenarnya. Penjelasan terjemahannya sering miris. Boleh jadi ditimbulkan dari adanya sentimen crusader (bayangan perang salib) yang masih pekat, sehingga keluar dari objektifitasnya.

Sebenarnya George Sale ada juga seperti itu, namun segi positifnya jauh lebih baik dari terjemahan sebelumnya dari penerjemah yang lain,  seperti antara lain bagaimana dia melihat sosok Nabi Muhammad sebagai berikut:

Nabi (Muhammad saw) sebagai: ●Pribadi yang sungguh baik karakternya;  ●Punya kecerdasan yang mendalam; ●Perilakunya yang menyenangkan;  ●Mengasihi orang miskin; ●Sopan kepada setiap orang; ●Kukuh didepan musuh; ●Dan diatas segalanya, memiliki penghormatan yang sangat tinggi atas nama Allah. Demikian tinggi penghormatan dan penghargaan George Sale terhadap Rasulullah saw.

George Sale sangat mengagumi hukum-hukum Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an. Ia menyebutkan bahwa Nabi, maksudnya Muhammad saw, sebagai pemberi ketentuan hukum bagi orang-orang Arab.

Terjemahan The Koran George Sale dikutip dan dijadikan referensi untuk menyusun sistim hukum dan pembuatan undang-undang di Inggris dan di Amerika. Di Inggris oleh John Adam dan Amerika oleh Thomas Jefferson.

Sementara dikalangan yang tidak suka dengan Islam, terjemahan The Koran George Sale, mencap George Sale telah kafir dengan “Injil Muhammad”-nya. Tuduhan lain mengatakan bahwa George Sale tidak Kristen lagi, begitu pula dengan Thomas Jefferson di Amerika.

Hingga kini, terjemahan The Koran George Sale tersebut ada di Library of Congress. Bahkan yang aslinya masih ada dengan harga sejak dari 200 dolar sampai 7 ribuan dolar. Tergantung dari edisi, dan kualitas biasa atau lux. Dan keadaan buku itu sendiri. Hal tersebut dapat dimaklumi, karena diterbitkan di abad 18. Terjemahan inilah yang mempengaruhi jalan fikiran John Locke dan juga Thomas Jefferson. Thomas Jefferson sebagai ahli hukum, negarawan dan kemudiannya menjadi presiden, mengingankan bahwa Muslim adalah warga masa depan negaranya.

Sementara yang lain menyatakan George Sale konon menghabiskan 25 tahun di Saudi, sehingga memperoleh pengetahuan tentang bahasa Arab dan adat istiadatnya. Keterangan ini adalah dasar dari pernyataan Voltaire dalam Dictionnaire philosophique dalam artikel 'Al Koran,' 'Arot dan Marot'. Di sisi lain, Harold Lyon Thomson, menulis di Kamus Biografi Nasional, menyatakan bahwa ia tidak pernah meninggalkan negara asalnya.

Malah dari salah seorang pembaca facebook bereaksi atas posting penulis mengenai The Koran George Sale dengan komentarnya: Bagaimana mungkin menterjemahkan Al-Qur’an yang bahasa Arab oleh orang yang tidak bisa berbahasa Arab. Walaupun ada yang membantu tetap saja syarat penterjemahan tidak terpenuhi. Perlu ada lembaga Islam yang memeriksa terjemahan tersebut.

Kemudian penulis komentari bahwa kalaupun kita baca bukan berarti sebagai referensi kita, tapi sebagai studi banding bagaimana orang diluar Islam memahami Kitab Suci umat Islam yang diterjemahkannya, The Koran yang sering disebutkan non muslim ketika itu The Alcoran of Mohammed. Kita juga ingin tahu kan, kalau tidak bagaimana kita dapat berdakwah dengan efektif tanpa kita tahu medannya.

Gambar: Halaman Pertama The Koran George Sake.


Ada yang menarik dari The Koran terjemahan George Sale ini, yaitu kalau diperhatikan The Koran dibawah baris dari tulisan By George Sale - lihat gambar diatas, tertulis dalam bahasa latin Nulla falsa doctrina est, quae non aliquid veri permisceat, Augustin, Quaeft. Evang. l. 2. C. 40. Setelah saya coba memengertikan maknanya adalah sebagai berikut:

Nulla falsa doctrina est, quae non aliquid veri permisceat.

Dalam bahasa Inggris penulis menemukan artinya sebagai berikut:

There is no false doctrine, which is not anything of the truth may embroil.

Dengan terjemahan bahasa Inggris dari bahasa Latin ini maka penulis mengambil kesimpulan maknanya adalah sebagai berikut:

Tidak ada ajarannya yang salah, namun tidak semuanya mengandung kebenaran, tapi boleh jadi kita ambil manfaatnya.


Gambar: Kutipan George Sale dalam bahasa Latin.


Ini suatu catatan dari The Koran di halaman pembuka, lihat gambar diatas, yang ingin menarik pembaca dari kalangan orang Inggris sendiri yang haus akan pengetahuan tentang Islam, tapi mereka ragu karena bukan kitab sucinya. Sebenarnya penerjemah The Koran ini mengutip kata-kata dari Augustin  dari halaman Quaeft. Evang. l. 2. c. 40.   George Sale memahami bahwa dari kalangan atas masyarakat mereka mengetahui sejarah adanya kejayaan Islam - sebelumnya Eropa masih berada di zaman gelap (dark ages). Dengan itu The Koran George Sale ini akan di beli mereka. Ternyata bukan di negara Inggris saja dibeli, tapi mereka yang diluar Inggris juga. Tentunya mereka bukan berbahasa Arab dan bukan pula beragama Islam dapat membaca Al-Qur’an asli berbahasa Arab, tapi dengan “The Koran” commonly called “The Alcoran of Mohammed”- sebagaimana lazimnya disebut Al-Qur’annya Muhammad menjadi penggantinya yang efektif untuk dibaca.

Ketika itu Kitab Injil bukan seperti sekarang, tapi hanya dalam bahasa Latin. Bahasa Latin sebagai bahasa agama mereka. Dan kebanyakan di kalangan pimpinan Gereja dan orang terpelajarnya mengerti bahasa Latin
 
Jadi, terjemahan The Koran George Sale adalah sebagai bagian dari memenuhi keiinginantahuan orang non Muslim untuk mencoba tahu isi Al-Qur’an, sebelumnya baru didengar-dengar saja dalam sejarah berjayanya kekhalifahan Islam seperti di Timur Tengah, Spanyol yang diperintah Islam selama 8 abad, dan Imperium Ottoman yang dapat mengalahkan Byzantium yang dikenal juga dengan nama Imperium Romawi Timur.

Karena pada abad ke-18 tidak ada referensi terjemahan Al-Qur’an yang layak bagi mereka. Sementara George Sale tidak berkenan dengan terjemahan yang ada kurang akurat. Sementara Barat memerlukan terjemahan Al-Qur’an. Kemudian terpenuhi dari terjemahan The Koran George Sale sebagai sumber pengayaan  sumber hukum bagi orang Barat yang sedang menggeliat maju dengan  renaissance – kebangkitan Eropa (Barat) seperti John Locke - dari Inggris dan Thomas Jeferson - dari Amerika. Sementara Perancis mengambil dari codex hukum Napoleon Bonaparte yang bersumber dari kekhalifahan Islam di Mesir.

Gambar: Halaman terjemahan Surat ke-18, Al-Kahf (The Cave)

Dalam kesempatan bedah buku Thomas Jefferson’s Quran yang notabene buku terjemahan The Qur’an George Sale, mas Abdul Nur Adnan bercerita. Suatu ketika ia bersama Nurcholis Majid membawanya ke Thomas Jefferson Memorial yang terletak dipinggiran "danau" Tidal Basin di Washington D.C.. Sesampai disana, kemudian Nurcholish Majid melihat dan membaca apa yang terdapat pada sekeliling dinding tinggi dalam bangunan Memorial yang terbuat dari marmer, bertuliskan kata-kata pilihan dari catatan-catatan berharga Thomas Jefferson. Setelah menyimaknya, kemudian Nurcholis Majid menyimpulkan dalam komentarnya:  "Ini seperti Piagam Madinah Nabi Muhammad saw". Wallahu ‘Alam bish-Shawab. Billahi Taufiq wal-Hidayah. □ AFM

Sumber:
Facebook Faisal Marzuki dalam tajuk "Siapa George Sale" □

Friday, July 29, 2016

Pergelutan Thomas Jefferson dengan Al Quran





Nabi (Muhammad saw) sebagai “pribadi yang sungguh baik karakternya, punya kecerdasan yang mendalam, perilaku yang menyenangkan, mengasihi orang miskin, sopan kepada setiap orang, kukuh di hadapan musuh, dan di atas segalanya, memiliki penghormatan yang sangat tinggi atas nama Allah”.

[George Sale]


S
eperti halnya dengan John Locke, Thomas Jefferson memiliki sebuah Qur’an. Jefferson yang waktu itu berusia 22 tahun membeli Qur’an pertamanya pada 1765, ketika sedang menempuh studi hukum di Williamsburg, Virginia yang masih dibawah kekuasaan (pemerintahan) Kerajaan Inggris. Sebuah surat kabar lokal mendokumentasikan pembeliannya atas Qur’an dua volume tersebut yang diterjemahkan seorang Inggris bernama George Sale. Pertama kali diterbitkan pada 1734, versi George Sale adalah yang paling awal diterjemahkan langsung dari bahasa Arab ke bahasa Inggris. Sebelumnya hanya dari terjemahan ke terjemahan, yang dengan itu jauh dari kedekatan dimaksudkan dalam Qur’an  yang sebenarnya. Di dalamnya tercakup 200 halaman “Wacana Awal ” yang berisi gambaran tentang keyakinan, ibadah dan hukum-hukum Islam.

Jefferson tertarik pada Qur’an sebagai sebuah kitab hukum, karena pada saat itu ia juga memesan banyak karya bahasa Inggris terkait yurisprudensi. Pastinya dia cukup surprise membaca definisi penerjemah yang menyebut Nabi (Muhammad) sebagai “pemberi ketentuan hukum bagi orang-orang Arab”. Jadi dengan itu jauh sebelum Barat berkembang seperti sekarang ini, masyarakat Islam ketika itu telah berkembang maju karena berdasarkan hukum seperti apa yang tertulis dari kitab Qur’an sendiri. Hal inilah yang dipelajari Thomas Jefferson.


Meski begitu Sale sebagai penerjemah Qur’an kedalam bahasa Inggris menyebut Islam sebagai “agama palsu”, tapi sementara itu dia juga memuji Nabi sebagai “pribadi yang sungguh baik karakternya, punya kecerdasan yang mendalam, perilaku yang menyenangkan, mengasihi orang miskin, sopan kepada setiap orang, kukuh di hadapan musuh, dan di atas segalanya, memiliki penghormatan yang sangat tinggi atas nama Allah”. Penerjemah juga menolak mendefinisikan Islam “disebarkan oleh pedang saja” dengan mengingatkan pembacanya bahwa orang Yahudi dan Kristen (beberapa kali Perang Salib) juga berperang atas nama agama mereka. Muhammad saw yang kemudiannya diketahui sebagaimana yang digambarkan Montgemary Watt [1] adalah seorang pacifis – yaitu seorang yang suka dengan ke-damai-an, tidak suka kekerasan. Tiga belas tahun lamanya selaku pembawa risalah Islamiyyah tidak pernah membalas orang yang melakukan kekerasan dan penganiayaan atas diri dan pengikutnya, bahkan dia luput atas assasinasi (pembunuhan) yang terencana terhadap dirinya, yang dengan itu ia melakukan hijrah ke Madinah - karena sudah merasa tidak aman lagi tinggal di Makkah, yang sebelumnya para pengikutnya secara berangsur-angsur hijrah terlebih dahulu.

Para pengkritik menuduh George Sale terlalu adil menggambarkan Islam, sehingga pengusaha misionaris agama Anglikan (Katolik Inggris) yang mempekerjakannya pun menolak hasil terjemahannya itu. Sale pun dianggap sebagai sebagai “setengah Muslim” oleh sejarawan Inggris Edward Gibbon pada 1788. Jadi di kedua sisi benua yang diantarai oleh lautan Atlantik - Amerika dan Eropa, mereka yang dinilai membela Islam atau penganutnya, sama-sama dikecam keras.

Lalu, apa yang ada dalam benak Jefferson mengenai Qur’an dan isinya? Dia tidak meninggalkan secuil pun catatan yang merekam pemikirannya tentang Kitab Suci Islam itu, mungkin karena memang dia tak pernah menulisnya, atau karena catatannya ikut musnah  saat rumah ibunya terbakar lima tahun kemudian. Akibat kebakaran itu, menurut Jefferson, dia kehilangan “semua kertas” dan “hampir semua buku”. Qur’an miliknya mungkin juga ikut terbakar, tapi kalaupun demikian, pasti dia membelinya lagi karena saat ini Qur’an milik Jefferson tersimpan rapi di Library of Congress. Di buku Qur’an terjemahan George Sale itu, Jefferson menorehkan parafnya di halaman pertama jilid pertama.

“Kasihilah tetanggamu–manusia seperti dirimu sendiri–dan negaramu, lebih dari mengasihi dirimu sendiri,” tulis Thomas Jefferson sebelum kematiannya. Siapa kiranya “tetangga” yang dimaksudkan Jefferson dalam pesan yang belakangan jadi cetak biru bagi kelahiran negara dan bangsa Amerika yang begitu dicintainya?

Secara implisit Jefferson memasukkan warga Muslim dalam rumusan “Kaidah Emas” yang ditulisnya. Banyak orang sekarang akan merasa kaget gagasan tersebut muncul pada masa itu, namun telah banyak bukti menguatkan hal ini.


Pada 1776, Jefferson menulis di antara catatan pribadinya: “Tidak seorang pun dari kalangan Pagan maupun Muslim atau warga Yahudi boleh dikecualikan dari hak-hak sipil persemakmuran karena agamanya.” Catatan itu ditulisnya beberapa bulan setelah ia menulis Deklarasi Kemerdekaan, ketika ia kembali ke Virginia untuk menyusun undang-undang baru bagi Amerika.

Jefferson mengadopsi preseden “hak-hak sipil” bagi Muslim dari traktat yang ditulis filsuf Inggris John Locke pada 1689, “A Letter Concerning Toleration”. Ide-ide Locke tentang toleransi terhadap Muslim dan Yahudi memicu serangan terhadapnya. Seorang kritikus mengecamnya karena memiliki “iman seorang Turki”(maksudnya Islam), dan dia pun dituduh menyimpan Al-Qur’an yang oleh para pengecamnya disebut sebagai “Injil Muhammad”.

Selama berabad-abad, praktik memfitnah orang - bagi orang yang dianggap simpati dengan yang berbau Islam - dengan cara menghubungkannya dengan Islam sangat umum dilakukan penganut Kristiani di Eropa. Dan praktik ini pun menyeberangi Samudera Atlantik sampai ke daratan Amerika.  Jefferson, karena pandangannya yang luas tentang kebebasan beragama dan kesetaraan politik, mengalami serangan berulang kali sebagai “kafir” - kata yang pada masanya berarti bukan  sekadar “tidak beriman”, melainkan juga “seorang Muslim”.

Jefferson sendiri mengkritik agama (Islam) dalam debat politiknya di awal tahun 1776 menyebut agama “membelenggu kebebasan” - artinya agama Islam disamakan saja dengan agama Kristen Katolik seperti sejarah Eropa abad tengah dimana agama (Kristen Katolik) menghambat kemajuan dan membelengu kebebasan dan berfikir sains, padahal sejarah Islam tidak demikian, baca Islam di Spanyol dan Peninggalannya. Tuduhan yang juga ia lontarkan terhadap ajaran Katolik dan pendetanya dalam sejarah mencatatnya memang membelengu kemajuan. Dengan itu kemudiannnya dipisahkanlah antara agama (Kristen dan Katolik) dengan urusan Negara yang dulunya dilakukan oleh Pendeta (kaum agama) dan Raja, baca Latar Belakang Lahirnya Zaman Kegelapan Eropah.  Jefferson berpikir kedua agama tersebut (agama Kristen dan Katolik) itu mencampuradukkan Agama dan urusan Negara tepat ketika ia ingin memisahkan Kekuasaan Agama dan Negara layaknya seperti di Eropa yang telah memisahkan antara  Agama dan Negara yang akan di aplikasikan di Virginia, kemudian secara keselurahan di Amerika.

Meskipun kritis terhadap Islam, Jefferson mendukung hak-hak para penganutnya (Kristen dan Islam), kebijakan yang dilakukannya juga untuk warga Yahudi dan Katolik - dalam hal ini dia bergerak melampaui pahlawannya, Locke, yang tidak bertoleransi kepada penganut Katolik dan Ateis.


Dalam buku Jefferson 1784 Notes on Virginia, dia mengungkapkan pandangannya tentang kaitan antara agama yang dianut tetangganya dengan negara: “Kekuasaan yang sah dari pemerintah mencakup kontrol atas tindakan-tindakan warga yang melukai orang lain. Tapi saya tidak terluka sedikitpun kalau tetangga saya bilang (mereka) ada 20 tuhan maupun tidak ada tuhan.  Mereka tidak mencopet dompet saya atau mematahkan kaki saya (mereka dilindungi haknya).” 

Dengan pernyataannya bahwa pemerintah tidak boleh mengganggu keyakinan spiritual warganya (yang bukan Kristen saja tapi juga Islam, Katolik Yahudi), secara tidak disadari Jefferson menunjukkan titik lemah kepada musuh-musuh politiknya. Bagi banyak orang, pernyataan Jefferson itu membuktikan bahwa dia bukan seorang Kristiani sejati.

Versi resmi Jefferson tentang Kaidah Emas, dikombinasikan dengan pandangan Locke tentang hak-hak sipil Muslim, dengan sangat nyata tergambar dalam autobiografinya pada 1821, di mana dia mengenang pertarungan terakhirnya untuk memenangkan rancangan undang-undangnya yang paling terkenal, the Statute of Virginia for Religious Freedom (Statuta Virginia untuk Kebebasan Beragama) - yang masih berlaku hingga kini.

Statuta itu menyatakan “Hak-hak sipil kita tidak bergantung pada pandangan keagamaan kita.” Meskipun usulan undang-undang Jefferson itu semula ditentang pada 1779, beberapa redaksionalnya dapat dinegosiasikan oleh James Madison dan akhirnya lolos disahkan pada 1786 saat Jefferson berada di Prancis.

Jefferson dengan gembira mencatat dalam autobiografinya bahwa upaya lawan-lawannya untuk mengubah redaksional dengan menambahkan “Yesus Kristus” di bagian pembukaan undang-undang tidak berhasil. Dan kegagalan tersebut menjadikan Jefferson semakin yakin untuk menegaskan maksudnya agar penerapan statuta itu berlaku “universal”. Dengan ini dia memaksudkan kebebasan beragama dan persamaan hak politik bukan hanya eksklusif bagi umat Kristiani - suatu keyakinan pada pluralisme agama yang juga diyakini Madison.

Jefferson menegaskan bahwa usulan awal undang-undangnya dimaksudkan untuk “mencakupkan perlindungannya terhadap Yahudi dan bukan Yahudi, Kristen dan Muslim, Hindu, dan kaum kafir….”

Pada saat menulis kata-kata seperti itu pada 1821, Jefferson tentu menyadari konsekuensinya, yaitu dirinya sendiri akan dicap sebagai kafir oleh kalangan mayoritas agama di Amerika Serikat yang baru merdeka 45 tahun ketika itu. Menjelang kemenangannya yang tipis dalam pemilihan presiden pada 1800 - yaitu saat baru 2 decade merdeka dari pemerintahan Inggris, dia mengaku pada seorang karibnya, “Betapa hebatnya upaya kita melampaui kemunafikan dalam politik dan agama ini, kawan.”

Jefferson bukanlah kandidat presiden terakhir yang dikecam dan difitnah gara-gara keterkaitannya dengan Islam, tapi dialah yang pertama. Tragisnya, meskipun Jefferson menang memperjuangkan kesamaan hak sipil Muslim, dia tak pernah tahu bahwa Muslim pertama Amerika - para budak dari Afrika Barat - tidak memperoleh kebebasan ketika itu yang dikiranya berlaku universal. Pendiri negara Amerika itu bahkan mungkin saja memiliki budak Muslim, meski tak ada bukti pasti tentang hal itu. Namun tak diragukan lagi, bahwa Jefferson sejak awal membayangkan Muslim sebagai sesama tetangga di masa depan negaranya, sebuah ramalan yang sudah dapat dipastikan kebenarannya saat ini.

Adapun penulis buku Thomas Jefferson’s Qur’an - Islam and the Founders adalah Denise A. Spellberg, pengajar sejarah dan studi Timur Tengah di University of Texas, Austin. Semoga dengan penulisan tajuk ini, menambah pengetahuan kita bagaimana orang diluar Islam menghargai dan mempelajari Al-Qur’an secara serius. Malah seorang Muslim Amerika Hamza Yusuf (terlahir dengan nama Mark Hanson) seorang sarjana dalam  Islam (American Islamic scholar) merasa tertarik dan beruntung mempelajari Islam dari sumber-sumber aslinya yaitu antara lain Al-Qur’an. Kini ia bukan hanya seorang muallaf saja, tapi ia sebagai salah seorang dari pendiri Zaytuna College (Perguruan Tinggi Islam Zaytuna, dan pendukung pembelajaran Islam Klasik dan mempromosikan metodelogi pembelajaran Islam  dalam pendekatannya kepada Islamic Sciences dan Klasik sekaligus ke seluruh dunia. Billahit Taufiq wal Hidayah. □ AFM


Catatan Kaki:
[1] William Montgomery Watt (lahir 14 Maret 1909 di Ceres, Fife, Skotlandia dan  wafat 24 Oktober 2006; Edinburgh, Skotlandia) adalah seorang pakar studi-studi keislaman dari Britania Raya, dan salah seorang orientalis dan sejarawan utama tentang Islam di dunia Barat.
Montgomery Watt adalah seorang profesor Studi-studi Arab dan Islam pada Universitas Edinburgh antara tahun 1964-1979. Ia juga merupakan visiting professor pada Universitas Toronto, Collage de France, Paris, dan Universitas Georgetown; serta menerima gelar kehormatan Doctor of Divinity dari Universitas Aberdeen. Dalam hal kerohanian, Montgomery Watt adalah pendeta (reverend) pada Gereja Episkopal Skotlandia, dan pernah menjadi spesialis bahasa bagi Uskup Yerusalem antara tahun 1943-1946. Ia menjadi anggota gerakan ekumenisme "Iona Community" di Skonlandia pada 1960. Beberapa media massa Islam pernah menjulukinya sebagai "Orientalis Terakhir".
Montgomery Watt meninggal di Edinburgh pada tanggal 24 Oktober 2006, pada usia 97 tahun.
[2] Hamza Yusuf is an American Islamic scholar, and is co-founder of Zaytuna College. He is a proponent of classical learning in Islam and has promoted Islamic sciences and classical teaching methodologies throughout the world.
[3] Sementara dalam sejarah Islam ajaran agama Islam dalam hidup di dunia (bukan Kekuasaan Agama, dalam Islam tidak ada Kekuasaan Yang Dijalankan Pemuka Agama) tidak dipisahkan dalam bernegara,  karena bagaimana ajaran moral bermasyarakat atau bernegara dalam ajaran agama Islam disebutkan dalam al-Qur’an. Definisi agama yang dikenal bangsa Eropa (Barat) berbeda dalam Islam. Dalam Islam mengandung apa yang disebut “kaffah” lengkap yaitu selamat dan sejahtera di Dunia dan di Akhirat. Oleh karena itu selaku seorang Muslim berdo’a dan mengharapkan agar hidupnya baik (selamat dan sejahtera) di Dunia dan baik (selamat dan sejahtera) pula di Akhirat. Apa yang di lakukan di Dunia berefek langsung kepada kehidupan di Akhirat. Bersikap atau bekerja baik di Dunia, akibatnya baik pula yang akan di dapatnya di Akhirat, nantinya. Begitu pula sebaliknya.

Kepustakaan:

●Thomas Jefferson’s Qur’an: Islam and the Founders adalah Denise A. Spellberg
●islamophobiatoday.com
●wikipedia
http://afaisalmarzuki.blogspot.com/2015/08/islam-di-spanyol-dan-peninggalannya.html
●http://jendelailmu-faisal.blogspot.com/2016/02/latar-belakang-lahirnya-zaman-kegelapan.html[][][]